catatan pendakian gunung sindoro via kledung

Mendaki gunung sindoro yuk, itulah ajakan rekan kerjaku yang pada waktu itu masih sama-sama bekerja di salah satu IGD suatu Rumah sakit di daerah Yogyakarta. Saya tidak langsung mengiyakan ajakan tersebut, namun berkat iming-iming tentang adanya padang edelweis serta view gunung Sumbing yang indah, saya tidak kuasa untuk ikut serta menyambangi salah satu gunung di wilayah Temanggung jawa Tengah ini.


Pendakian ke gunung Sindoro via Kledung memang menjadi pengalaman pertamaku. Gunung Sindoro atau masyarakat sekitar sering menyebutnya sebagai gunung sindura, sendoro ataupun sundoro mengingatkan kita akan hasil karya kita waktu masih di bangku SD. Dua gunung kembar dengan satu jalan menuju ke lerengnya serta tidak lupa diberi hiasan matahari serta ladang penduduk. Letak gunung Sindoro serta Sumbing yang berdekatan bila kita melihatnya dari kejauhan hampir mirip dengan karya fenomenal waktu kita masih SD. Gunung Sindoro bila dilihat dari kejauhan akan berdampingan dengan gunung Sumbing dan dipisahkan oleh sebuah pelana, oleh masyarakat sekitar pelana ini disebut sebagai pelana Kledung dengan tinggi kurang lebih 1.405 mdpl. Secara administratif gunung Sindoro terletak di kabupaten Temanggung serta Wonosobo Propinsi Jawa Tengah.


Jalur pendakian gunung Sindoro

Pendakian ke gunung Sindoro dapat ditempuh melalui 3 rute. Yakni pendakian via Kledung, Pendakian Via Tambi dan yang terakhir adalah pendakian via dusun Katekan. Setelah browsing mencari tahu tentang jalur yang paling mudah dilalui, saya dan rekan saya memutuskan untuk melakukan pendakian via kledung. Alasan lainnya adalah jalur pendakian ini mudah untuk dijangkau. Jalur pendakian Kledung terletak tidak jauh dari Jalan Raya ke Wonosobo. Misalkan anda berasal dari kota Yogyakarta atau sekitarnya, anda bisa menggunakan alat transportasi bus mengambil bus jurusan ke Kabupaten Magelang kemudian ganti menggunakan bus Ke daerah Wonosobo atau Temanggung, nah pos pendakian gunung Sindoro via Kledung dapat anda jumpai pada sisi kiri anda.

Persiapan pendakian  

Team pendakian Sindoro Via Kledung kali ini beranggotakan 7 orang yang rata-rata adalah rekan seprofesiku, kami berangkat dari Yogyakarta, start dari jembatan Janti, karena disanalah tempat yang strategis untu memarkirkan motorku dari arah Klaten. Sebelum kami berangkat ke Temanggung, kami berencana mengambil dome terlebih dahulu, dome tersebut sudah kami pesan jauh-jauh hari sebelumnya. Pemesanan dilakukan pada salah satu rental perlengkapan outdoor di daerah Jalan Munggur Yogyakarta. Kami memerlukan 2 dome, dan baru mendapatkan 1 dome. Setelah sampai tempat rental alat outdoor tujuan kami, didapati penyewaan tersebut tutup dan tidak menginformasikan bahwa hari itu dijadwalkan tutup. Kami telfon pemiliknya juga tidak merespon. Benar-benar mengecewakan pelayanan persewaan alat outdoor yang satu ini. Kami sempat berkeliling mencari penyewaan tenda di daerah sekitarnya, namun nihil, dome sudah habis disewa. Kebetulan hari itu adalah hari Minggu, sehingga banyak sekali orang yang melakukan pendakian .

anggota kami 
Okelah kita melakukan pendakian gunung Sindoro via kledung hanya menggunakan 1 dome saja. Semoga saja cuaca mendukung sehingga tidak turun hujan. Perjalanan dari Yogyakarta pun dimulai sekitar pukul 10:00. Kami berangkat ke Temanggung menggunakan sebuah mobil, sebuah mobil yang cukup berumur ditumpangi oleh 7 orang dengan masing-masing membawa carrier ukuran 40-60 L. Sangat sumpek dan kaki harus ditekuk untuk dapat masuk ke dalam mobil tersebut. Sampai di tengah jalan di daerah Magelang-Temanggung, tiba-tiba rekan kami mengajak berhenti di tepi jalan, tepatnya di sebuah sungai kecil, rekanku Bona dengan berpakaian ala Kopasus dan mengenakan kaos kebesarannya bertuliskan GEGANA muntah-muntah di tepi sungai itu. Untunglah kami pendaki yang budiman yang selalu membawa setidaknya obat antimual setidaknya meminimalisir masalah kesehatan tersebut. Kurang lebih 4 jam dari Yogyakarta kita sampai di pos pendakian gunung Sindoro Via Kledung.

Pos pendakian sindoro via kledung   

penunjuk jalan masuk basecamp

suasana basecamp pendakian sindoro via kledung


Setelah sampai di basecamp pendakian gunung Sindoro via kledung, kami melakukan registrasi terlebih dahulu, kami hanya melakukan registrasi tanpa masuk ke dalam basecamp. Rekan saya yang saat itu bertugas mengantarkan kami sampai di basecamp buru-buru ingin pulang ke Jogja Karena ada suatu acara. Namun beruntungnya kami, kami diantarkan sampai atas hampir mendekati pos 1. Oya bagi rekan-rekan yang belum pernah ke gunung Sindoro, terutama yang melalui desa Kledung, jarak antara basecamp menuju pos 1 cukup jauh dan sangat memakan waktu. Jalan yang dilewati dari basecamp sampai pos 1 adalah jalan yang terbuat dari mistar melewati perkampungan rumah warga kemudian dilanjutkan dengan jalanan yang memiliki track yang menanjak dan semakin menanjak. Namun jangan khawatir, bagi yang tidak ingin berlama-lama melakukan perjalanan dari basecamp menuju pos 1, rekan-rekan dapat menggunakan jasa ojek yang tersedia dengan membayar Rp.15.000. Namun bagi yang menyewa ojek dalam jumlah yang banyak, maka dapat dikenai potongan harga. Panorama khas pegunungan serta pemandangan akan kebun sayuran milik warga sekitar menghiasi perjalanan kita dari basecamp menuju ke pos 1. Bila rekan-rekan memilih berjalan kaki, waktu tempuh dari basecamp menuju ke pos 1 berkisar antara 1-1,5 jam perjalanan.

Pos 1 menuju ke pos 2

Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 15 menit dari tempat pemberhentian kendaraan kami, dengan melewati medan yang cukup menanjak, kami sampailah di pos 1. Waktu itu menunjukkan sekitar pukul 17:00. Kami beristirahat sebentar di pos 1, mengatur nafas kami, 15 menit pertama menjadi pemanasan bagi kami. Kesalahan kami adalah, kami tidak menyempatkan diri beristirahat sebentar di awal pendakian karena tidak adanya tempat untuk beristirahat diantara basecamp dan pos 1. Pos 1 sendiri adalah sebuah area yang cukup luas yang dapat dijadikan tempat beristirahat beberapa pendaki. Di pos ini pula kami berkesempatan berkenalan dengan beberapa pendaki dari luar propinsi. Tujuan kami sama melakukan pendakian sindoro via kledung ini, yakni sampai puncak dan dapat pulang dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Tidak sampai 30 menit kami beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju ke pos 2 yakni pos cawang. Perjalanan diawali dengan medan yang agak landai dengan memasuki hutan yang memiliki vegetasi yang cukup rapat. 


romantisme pengantin baru

Petang telah berlalu, cahaya matahari senja telah digantikan dengan cahaya bulan yang temaram, memaksa kita untuk menghidupkan senter yang kita bawa dari rumah sebagai perlengkapan wajib kita mendaki gunung. Jalan yang kami lalui pada saat itu adalah jalanan yang cukup licin karena jalur yang basah, setelah area tersebut diguyur hujan. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam, kami sampailah di pos 2. Pos 2 sendiri adalah sebuah area yang cukup kecil untuk mendirikan tenda. Mungkin hanya 1-2 tenda yang dapat didirikan di pos ini, selebihnya anda dapat mendirikannya di area bagian atas pos 2. Kami meutuskan untuk beristirahat sebentar di pos 2, sembari melepas dahaga kami dengan air yang kami bawa dari rumah, mas Yusto rekanku bercerita tentang banyaknya babi hutan di Jalur pendakian Sindoro via kledung ini. Menurutnya babi hutan akan muncul pada malam hari, seringkali tempat berkemah pendaki yang menjadi sasaran babi hutan tersebut, kadang babi hutan tersebut merusak tenda dan memakan bekal yang ada. Kami seperti diingatkan untuk lebih berhati-hati terutama ketika hendak mendirikan tenda kami nantinya.

Pos 2 menuju ke pos 3 ( pos seroto )

Perjalanan Pendakian Sindoro via kledung berlanjut dari pos 2 menuju ke pos 3. Di perjalanan ke pos 3, kami melewati medan yang menanjak, lebih menanjak dibandingkan perjalanan dari pos 1 ke pos 2. Perlu diperhatikan ketika melewati pos ini karena di sepanjang jalur ini terdapat batu-batu dengan ukuran yang cukup besar dan rawan lepas atau jatuh apabila terinjak, oleh karenanya kita harus pandai-pandai mencari pijakan yang tepat, agar kita tidak menginjak batu yang beresiko lepas dan menimpa rekan di belakang kita. 




Setelah kurang lebih berjalan 2 jam kami sampai di pos 3. Pos 3 sendiri adalah tempat yang paling ideal untuk dapat mendirikan tenda. Tempat ini sangat luas, dan dapat menampung lebih dari 12 tenda. Bila anda tidak mendapatkan tempat untuk mendirikan tenda di pos 3, anda dapat mendirikan tenda di atas pos 3. Di bagian atas pos 3, terdapat beberapa tempat yang bisa anda gunakan untuk sekedar beristirahat dan bermalam. Meskipun di pos 3 merupakan area yang luas untuk mendirikan tenda, namun pada malam itu, kami hampir kehabisan tempat. Kami mendapatkan tempat di paling ujung barat dari pos 3. Malam itu cukup banyak pendaki yang bermalam. Cuaca sangat cerah dan tidak ada tanda-tanda akan turunnya hujan membuat setidaknya kecemasan kami hilang, mengingat kami hanya membawa sebuah dome berkapasitas 4 orang sedangkan kami beranggotakan 7 orang, tentu akan sangat kerepotan bila hari itu turun hujan.

Satu malam bersama babi hutan

Setelah makan makanan yang kami bawa dari rumah dan setelah beberapa waktu ngobrol-ngobrol tentang perjalanan yang sudah kami lewati, kami berencana melakukan summit attack keesokan harinya, kami sepakat untuk tidur lebih awal. Waktu itu menunjukkan pukul 21:45. Kami sengaja tidur lebih awal dikarenakan ingin menjaga kondisi kami karena masih akan melakukan perjalanan esok paginya. Beberapa diantara kami beristirahat tidur di luar dome. Belum sempat tertidur, muncul suara diantara semak-semak di sebelah selatan tempat kami mendirikan tenda. Suara gesekan semak-semak tadi semakin lama semakin keras dan cukup mengganggu kami, suara tersebut tidak lain adalah suara babi hutan yang mendekat area kami, mungkin karena mencium bau dari masakan yang dimasak oleh pendaki pada malam itu, sehingga babi-babi tersebut mulai mendekat dan mencari makan. Karena takut akan adanya serangan babi hutan, kami sepakat untuk membuat api unggun yang berasal dari ranting-ranting pohon kering yang dengan mudah kami dapatkan di sekitar pos 3. 

tempat sumber suara babi hutan 




Setelah membuat api unggun,kami berusaha memejamkan mata. Belum lama tertidur suara dari babi hutan itu muncul lagi. Saya pribadi juga sangat dikejutkan dengan menghilangnya rekan saya yakni mas Bona yang sudah saya ceritakan di awal perjalanan tadi. Rekan saya menghilang  secara misterius, padahal terakhir saya lihat dia tidur di sebelah saya. Kami pun sepakat untuk mencarinya, menyisiri di bagian selatan tempat kami bermalam, menyisiri daerah semak belukar asal tempat babi hutan tersebut terdengar. Tidak beberapa lama kami mencari, tiba-tiba mas Bona muncul dan berkata “ maaf mas tadi saya pergi tidak pamit dulu, perut saya mules, saya diare “ walah, tau begitu kita tidak perlu mencarinya….takutnya mengganggu fase klimaksnya dalam melakukan defekasi.

Suara babi hutan tersebut terdengar sampai sekitar jam 01:00, barulah kami bisa benar-benar tidur, tanpa harus terganggu dengan babi hutan dan teriakan-teriakan pendaki lainnya yang sama-sama terganggu.

Pos 3-pos 4 

Alarm hp berbunyi menunjukkan pukul 04:00, rasa kantuk dan dinginnya udara di gunung Sindoro seakan memaksaku untuk tidak beranjak dari tempat kami tidur, saya pun enggan melepaskan sleeping bag yang menyelimuti tubuh saya. Namun berkat obsesi  putri dari rekanku yakni mas Yusto dan merupakan anggota termuda dari kelompok kami, kamipun bersiap melakukan perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mengisi perut kami terlebih dahulu dengan mie instan dan segelas kopi, dengan harapan setelah meminum kopi tidak akan mengantuk selama dalam perjalanan.

Pendakian sindoro pun berlanjut. Namun hanya beberapa rekan yang memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, sedangkan beberapa rekan lainnya memilih untuk beristirahat di pos 3. Yang melanjutkan perjalanan adalah sebanyak 4 orang. Meninggalkan pos 3 menuju ke pos 4, pertama kali kami disuguhi dengan jalanan yang cukup landai, setelah itu perjalanan dengan melewati jalur yang sangat curam dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat membuat kita harus sekali-kali berhenti untuk beristirahat. Jalur dari pos 3 menuju pos 4 adalah jalur yang paling melelahkan karena minim akan bonus. Selain minim bonus, di sepanjang jalur ini banyak terdapat bebatuan dengan ukuran besar yang dapat lepas dan mengenai rekan di belakang kita. 

medan di sepanjang pos 3-pos 4


Rasa lelah kami terobati dengan adanya sinar mentari yang muncul di ufuk timur menandakan pagi akan segera tiba. Dari kejauhan nampak gunung Sumbing dengan gagah berdiri dengan puncaknya menjulang tinggi, puncak yang setia menunggu kedatangan kami di lain kesempatan. 




Perjalanan ke puncak berlanjut. Semakin naik maka vegetasi yang kami jumpai semakin berkurang. Di tengah perjalanan, rekan kami yakni mas Rudi merasa dirinya tidak sanggup berjalan lebih jauh lagi. Dia menganjurkan kami untuk terus menuju puncak. Mas Rudi memutuskan untuk beristirahat di sebuah tenda milik pendaki lainnya. Kami bertiga melanjutkan perjalanan, dengan catatan 2 jam harus kembali ke bawah. Kami bertigapun bergegas melanjutkan perjalanan. Di perjalanan kami dapat melihat beberapa gunung yang terlihat sangat kecil. Gunung-gunung yang dapat dilihat dari jalur ini diantaranya : gunung Merapi, gunung Lawu, gunung Merbabu dan gunung Sumbing.


Mengalahkan keegoisan di pos 4

Sampai di pos 4 waktu menunjukkan sekitar pukul 07:00 wib, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan naik lagi, pos 4 atau banyak orang menyebutnya sebagai pos batu tatah adalah sebuah area yang menurut saya tidak terlalu luas dan bukan tempat yang ideal untuk mendirikan tenda. Area yang sempit serta bahaya angin besar datang dapat menjadi ancaman para pendaki yang bermalam di tempat ini. Namun watu tatah adalah spot yang menarik bagi anda untuk mengabadikan perjalanan anda ketika menyambangi gunung Sindoro, karena di watu tatah ini anda dapat mengambil gambar dengan background gunung Sumbing yang gagah berdiri.





Naik dari pos 4 kita akan melewati hutan yang penuh dengan tanaman lamtoro dan padang Edelweis. Beruntungnya kami melakukan pendakian pada waktu bunga edelweis sedang mekar. Di padang edelweis ini kami harus mengakiri perjalanan kami dengan tidak melanjutkan perjalanan sampai ke puncak Sindoro. Kami ingat meninggalkan rekan kami di pos 3-4 bersamaan dengan pendaki lainnya. Memang sangat disayangkan mengingat tenaga masih sangat cukup untuk melanjutkan perjalanan ini. Kami harus segera turun dari padang edelweis dan bergegas untuk menuju ke pos 3 dimana rekan kami sudah menunggu. Informasi yang kami poroleh, untuk menuju ke puncak sindoro jika anda sudah mencapai padang edelweis membutuhkan kurang lebih 1 jam perjalanan. Anda sudah dapat melihat kepulan asap dari kawah sindoro dari padang edelweis.





medan saat perjalanan pulang

Berdasarkan pengalaman saya yang sudah mendaki gunung Sindoro ( meskipun tidak sampai puncak) saya akan memberikan tips mendaki gunung Sindoro.

  • Untuk menuju basecamp bila anda berasal dari arah Yogyakarta, Klaten, Solo dan sekitarnya, anda dapat menggunakan transportasi umum berupa bus. Bila anda dari solo bisa menggunakan bus jurusan ke Yogyakarta, kemudian ganti bus dengan jurusan ke arah Magelang setelah itu barulah ganti bus lagi dengan jurusan ke arah Wonosobo atau Temanggung
  • Basecamp kledung mempunyai beberapa fasilitas diantaranya sebuah aula yang cukup luas,warung makan, toilet dan sebuah mushola yang dapat kamu gunakan untuk tetap beribadah. Di basecamp juga disediakan toko souvenir kecil yang menjajakan beberapa pernak-pernik seperti stiker dan beberapa pernak-pernik lainnya.
  • Bagi kamu yang tidak membawa logistic yang cukup, jangan kawatir akan kekurangan logistic, disekitar basecamp terdapat beberapa toko kecil yang dapat membantumu untuk mencukupi keperluan logistic, terdapat juga pasar di sebelah barat kledung. 
  • Perlu kita ketahui bersama bahwa jalur pendakian sindoro via kledung tidak terdapat mata air, oleh karenanya sangat dianjurkan membawa air dalam jumlah yang cukup, untuk memenuhi kebutuhan cairan yang kamu perlukan selama melakukan perjalanan
  • Tempat untuk mendirikan tenda yang paling ideal adalah di pos 3, dimana di pos ini terdapat area yang sangat luas  untuk dapat menampun belasan pendaki. Selain itu bagi yang tidak mendapatkan tempat untuk mendirikan tenda di pos 3, jangan berkecil hati, karena di bagian atas pos 3 juga masih ada beberapa tempat, meskipun tergolong sempit, namun cukuplah untuk sekedar mendirikan tenda . Namun perlu diperhatikan, bahwa tempat tersebut berada pada kanan atau kiri jalur, oleh karenanya sebaiknya anda tidak mendirikan tenda dengan tali melintang pada jalur.
  • Bagi yang ingin mendirikan tenda selain di pos 3. Anda juga dapat mendirikannya di sepanjang perjalanan dari pos  3 menuju ke pos 4. Ada tempat yang sangat luas di jalur ini, meskipun areanya agak miring namun cukup nyaman bilamana kamu tempati.
  • Jangan lupa untuk mengambil foto-foto di spot menarik di sepanjang jalur pendakian sindoro via kledung ini. Salah satunya adalah spot di watu tatah. Watu tatah menjadi spot menarik bagi kami yang menginginkan gambar dengan background gunung sumbing di bagian belakangnya. Namun perlu sikap yang berhati-hati, jangan sampai hanya untuk sebuah foto kamu harus melakukan tindakan yang mengancam keselamatanmu sendiri.
  • Waspadai akan gangguan babi hutan, meskipun beberapa sumber menyebutkan, bahwa jalur pendakian via kledung aman dari serangan babi hutan, namun masih ada saja babi hutan yang berkeliaran terutama di pos 3. Babi hutan tersebut akan datang, bilamana mencium bau makanan dari pendaki yang memasak makanan di sekitar pos 3. 
  • Bila anda mendaki sampai puncak, menurut informasi yang saya peroleh dari beberapa sumber, kondisi puncak gunung sindoro berupa kawah dan masih aktif mengeluarkan asap belerang, sebaiknya anda berhati-hati terhadap asap tersebut. Lengkapilah diri anda dengan masker pelindung untuk mengantisipasi bahaya yang dapat terjadi. Sebaiknya anda tidak memaksakan diri untuk mencapai kawah tersebut bilamana asap belerang sangat pekat dan dapat mengancam keselamatan diri anda.
  • Di pendakian gunung Sindoro via Kledung seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, terdapat jasa ojek. Jasa ojek tersebut dikelola oleh warga sekitar yang mayoritasnya adalah petani yang menanam sayur-sayuran. Untuk ongkos ojeknya sendiri kurang lebih 15 ribu rupiah, dan masih dapat anda tawar bilamana anda menggunakannya bersamaan dengan anggota yang cukup banyak.

Semoga pengalaman saya mendaki gunung sindoro via kledung ini bermanfaat. 
 

Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "catatan pendakian gunung sindoro via kledung"

  1. salah satu jalur yang sepertinya cukup sekali seumur hidup aja...ahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. terlalu mudahkah?? atau ada cerita lain mas pas melewati jalur ini ?

      Delete
  2. bang gojali emang knpa dengan jalur ny, apakah ada jalur pendakian yg lebih enak dari kledung? soal ny saya belum ngerasain jalaur lain. klau ada yg lebih hemat waktu dan engak bahaya saya mau coba melakukan pendakian gunung sindoro lagi.

    ReplyDelete